BERITANUSANTARA - Sejumlah area yang ada di Indonesia mengusahakan menutup lokalisasi yang ada di daerahnya masing-masing.
Tujuannya untuk menghilangkan kesibukan prostitusi sayangnya, hingga pas ini geliat prostitusi masih tetap ada.
Bahkan modusnya juga beragam mulai dari berkedok online hingga offline, hingga yang ada di kampus-kampus.
Misalnya layaknya pengakuan seorang gadis yang menjadi 'ayam' kampus.
Nama wanita yang berusia 20 th. itu adalah Kenanga (disamarkan).
Tinggi badannya sebenarnya tak menjulang, namun perawakannya sintal padat berisi.
Wajahnya teduh, tak menyiratkan aura kebinalan. Berpakaian rapi, bersepatu, layaknya layaknya pekerja kantoran.
Siapa nyana, mahasiswa semester empat sebuah universitas swasta di Semarang itu sanggup menjadi patner merengguk birahi.
Selain menimba ilmu, ia juga melayani jasa membebaskan syahwat para pria kesepian. Tentu dengan imbalan sejumlah rupiah yang nominalnya telah disepakati.
Sudah lebih dari setahun Kenanga merintis profesi ganda: mahasiswi sekaligus praktik plus-plus berbayar.
Mulanya, ia cuma 'nyambi' menjadi pemandu lagu freelance.
Seiring dengan berjalannya waktu, ia pun mengambil peran lebih dalam.
Gadis asal eks Karisidenan Banyumas itu sharing cerita kepada Tribun Jateng.
Sembari menyeruput jus buah, ia mengaku semua itu rela dia laksanakan untuk mendukung biaya kehidupan sehari-hari, dan biaya kuliah sepanjang ini.
"Saya kuliah biaya sendiri, sanggup uang dari orangtua pas pertama saja, untuk daftar dan biaya hidup awal-awal di Semarang. Setelah itu, aku mendambakan semuanya mandiri, tak rela membebani orangtua," katanya.
Kenanga menuturkan, sehabis uang bantuan orangtua, sisa pendaftaran kuliah itu ludes, ia pun mencoba peruntungan dengan menjadi pemandu lagu freelance, dengan tarif Rp 100 ribu/jam.
Pilihan itu bukan tanpa alasan, sedari duduk di bangku SMP, ia sebenarnya hobi nyanyi.
"Karena aku hobi nyanyi, pilihan menjadi pemandu lagu menjadi logis," ujarnya.
Kala itu, mami, sebutan koordinator pemandu lagu di area karaoke di mana ia sering menemani tamu, tawarkan kepadanya agar sekalian sanggup menemani tamu di kamar hotel.
"Mami bilang, kecuali kerja sekalian totalitas. Tapi pas itu aku tolak mentah-mentah. Semula sebenarnya sama sekali tak ada permohonan terjun ke dunia layaknya ini," ucap gadis berambut lurus itu.
Selain penawaran dari mami, Kenanga pun sering menerima ajakan 'ngamar' dari tamu karaoke yang tergiur kemolekan tubuhnya.
"Sampai nyaris setahun, aku kekeh menolak tawaran itu," ungkapnya.
Namun berjalannya waktu, suatu kala ia begitu benar-benar memerlukan uang untuk mendukung biaya kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Sementara, pundi-pundi uang di tabungan hasil ia bekerja sepanjang menjadi pemandu lagu freelance tak mencukupi.
"Kemudian, aku diam-diam menerima tawaran untuk ngamar dari seorang tamu. Dari situ aku selanjutnya terjun ke dunia layaknya ini," jelasnya.
Meski sesudah itu bersedia melayani jasa kencan membebaskan syahwat sesaat, Kenanga mengaku tetap tak meninggalkan dunia pemandu lagu freelance.
Menurut dia, dapat benar-benar terlihat menyolok kala tiba-tiba ia begitu saja meninggalkan dunia lamanya sebagai pemandu lagu freelance.
"Tak semua mengerti kecuali aku sanggup di-BO (booking-Red)," ujarnya.
Selama ini, ungkapnya, ia tawarkan jasa kencan lewat beberapa kelompok rahasia di Facebook (FB), tak sekedar pasti dari tamu karaoke yang ditemaninya.
Dia mengakui, tak tawarkan jasa lewat akun Twitter, lantaran menilai 'promosi' di fasilitas sosial (medsos) style itu dapat terlihat lebih menyolok.
"Kalau Twitter kan gak ada ya group-group rahasia kayak di FB," ucapnya, beralasan.
Kenanga berujar, kecuali ada pria hidung belang yang berminat atau merespon postingannya di kelompok FB, komunikasi dapat dilanjutkan via inbox. Jika sungguh-sungguh diteruskan lewat aplikasi fasilitas pesan di ponsel.
Ia mengaku tak pernah menaruh nomer whatsapp atau aplikasi pesan ponsel lain punya tamu pria hidung belang.
"Selesai kencan, ya sudah, chatingan aku hapus semua. Kecuali pada tamu tertentu yang tertentu," bebernya.
Menurut dia, untuk mendapat layanan plus darinya, tarif kencan yang ditawarkan mendekati angka Rp 1 juta untuk short time (st), dan Rp 2 juta untuk fasilitas long time (lt) atau menginap.
Semua jasa yang ditawarkan exclude, berarti biaya hotel menjadi tanggungan tamu.
"Jarang aku rela menerima tawaran menginap, capek," ujarnya.
Selain itu, Kenanga menuturkan, tak tiap tiap hari menerima tamu.
Ia rela melayani jasa membebaskan syahwat cuma kala ia memerlukan uang.
Menghindari Tamu iseng
Untuk menjauhi calon tamu yang iseng, sebelum saat berangkat ke hotel yang telah disepakati, ia berharap pria yang bersangkutan mengirimkan foto kamar yang telah dipesan.
"Kalau masih ragu, aku videocall. Setelah dipastikan tamu ada di kamar cocok yang telah disepakati, baru aku meluncur ke hotel," imbuhnya.
Kenanga pun tak dipengaruhi menerima tamu di kamar kos, walaupun kos yang ditempatinya pas ini sanggup dibilang bebas.
Menurut dia, kos cuma untuk area beristirahat dan kesibukan lain yang jauh dari dunia 'adu syahwat', contoh belajar.
Begitu juga dengan Cinta (nama disamarkan), telah menjadi 'ayam' universitas sejak tiga th. lalu (2015).
Keputusan itu diambilnya lantaran tergiur pundi-pundi uang untuk memenuhi style hidup hedonis Ibukota Jateng.
Wanita berusia 22 th. itu menceritakan, awal dirinya menjadi menemani om-om gara-gara ajakan kawan satu tongkrongan.
Ia tidak memungkiri alasan rela menjadi 'ayam' universitas untuk belanja sejumlah barang, layaknya baju, hingga biaya perawatan tubuh.
“Awalnya aku ke Surabaya, niatnya ketemu kawan perempuan semasa SMA dulu. Diajaklah dugem. Dari situ dikenalkan dengan om-om berusia kurang lebih 40-50 tahun. Teman aku bilang: 'enak lho, uangnya banyak, orangnya juga baik',” tutur Cinta yang sesudah itu menuruti ajakan temannya.
Hubungan itu berlangsung beberapa bulan, hingga selanjutnya tidak kembali berkomunikasi lantaran handphone miliknya hilang dan yang bersangkutan juga tidak mengusahakan mencari dirinya lagi.
Setelah itu, ia kembali dikenalkan dengan om-om lain yang masih sekumpulan. Hubungan itupun berlangsung hingga kini.
Cinta cuma rela menerima order dari kawan dekatnya itu.
Ia mengaku tak serampangan didalam pilih siapa pria hidung belang yang dapat ditemani.
Wanita kelahiran 1991 itu mengaku juga style selektif. Ia pun tidak terang-terangan menjual diri (open BO).
“Kalau aku tidak pernah menerima BO, dan sebenarnya enggak mau, gara-gara kuatir sakit (tertular penyakit kelamin-Red), dan risau kecuali BO nanti banyak orang yang kenal dan mereka melihat aku rendah,” imbuhnya.
Menjadi Pelanggan tetap
Cinta menuturkan, sebisa bisa saja perkenalan pertama itu berlanjut menjadi pelanggan tetap.
Lebih tepatnya, ia lebih nyaman menjadi pacar simpanan dibandingkan dengan 'ayam' universitas yang terang-terangan open BO.
Alasannya, gara-gara tak kudu ganti-ganti pasangan yang dikhawatirkan membawa dampak identitasnya cepat terbongkar.
Pertimbangan lain, ia menjadi pundi-pundi uang yang didapat jauh lebih besar.
"Jadi kecuali butuh uang tinggal minta, nggak kudu terkait seksual dengan beberapa pria (untuk menndapatkan jumlah tertentu-Red)," tandasnya.
Tak cuma satu orang, dilansir dari Tribun Jateng, Cinta mengungkapkan, kini ada dua pria beristri yang menjadi pelanggan tetapnya.
Mereka berprofesi sebagai pengusaha yang tinggal di Surabaya dan Semarang.
Keduanya pun tidak saling mengenal satu sama lain, dan ia melindungi kerahasiaan itu.
Dengan menjadi simpanan, Cinta menjadi 'diopeni' dan serba kecukupan, terlebih dari faktor financial.
Setiap kali bertemu, ia diberi uang sekurang-kurangnya Rp 1 juta dan paling banyak Rp 6 juta sekali kencan.
“Model transaksi, kecuali ketemu pasti kasih, sekurang-kurangnya Rp 1 juta-Rp 2 juta. Kadang tidak ketemu pun tiba-tiba ditransfer uang tanpa aku minta,” ungkapnya.
Cinta tidak memungkiri alasan dirinya rela menjadi wanita simpanan untuk belanja sejumlah barang, atau dengan kata lain agar sanggup mempunyai segala benda branded dan up to date.
“Kalau yang di Surabaya ditawari ingin belanja apa, paling kebanyakan baju, kecuali handphone belum. Pelan-pelan saja, biar tidak benar-benar terlihat moroti, pura-pura sayang,” ucapnya seraya tertawa.
Uang yang diperolehnya sebagai 'ayam' universitas simpanan itu tidak dipakai untuk biaya kuliah, gara-gara ia masih mendapatkannya dari orangtua.
Selain itu, Cinta juga kuatir orangtuanya sangsi kecuali tidak kembali berharap uang saku untuk keperluan pendidikan dan hidupnya di Semarang.


Posting Komentar